Oleh
Hamidulloh Ibda
Dimuat
Koran Barometer, 14 September 2013
Pemberantasan korupsi di
negeri memang “setengah hati’, bahkan penegak hukum, KPK, dan pemerintah
terkesan “impoten” dan tak berdaya dalam menuntaskan korupsi. Terbukti dengan
beberapa skandal kasus besar tenggelam tidak jelas kelanjutannya, seperti kasus
Hambalang dan Century. Mati satu, tapi tumbuh seribu. Demikian ungkapan yang
tepat untuk menggambarkan kondisi supremasi hukum di Indonesia. Satu kasus
belum tuntas, tapi sudah disusul kasus-kasus lain. Dan hilangnya satu kasus
bukan karena tuntas dibasmi, tapi karena tergeser kasus baru. Inilah wajah
negara kita yang setengah hati memberantas korupsi.
Lalu, jika penegakan
hukum dari pemerintah impoten, bagaimana dengan kondisi ekonomi Indonesia?
Bagaimana dengan kemuakan rakyat terhadap koruptor? Nampaknya pemerintah kita
membuat rakyat “pesimis” untuk keluar dari lingkaran korupsi. Saat negara lain
sudah bebas dari korupsi, Indonesia tetap menjadi negara terkorup. Saat negara
lain berani menghukum mati dan merampas harta koruptor, republik ini hanya
berretorika dalam menumpas korupsi.
Tak
Sekadar Merampas
Diakui atau tidak, hukuman untuk koruptor di negeri
ini memang “remeh-temeh” dan tebang pilih. Bahkan,
pemerintah secara jelas “membela koruptor” dengan
berbagai kebijakan yang dikeluarkannya.
Inilah yang membuat rakyat muak dan kecewa atas lemahnya hukum untuk menindak tegas
koruptor. Seakan-akan pemerintah berpihak pada koruptor dan tak
pernah membuat hati rakyat puas dengan tindakan tegas kepada koruptor.
Lalu, sampai kapan Indonesia akan seperti ini? Jika
pemerintah tak tegas, maka sama saja mereka mendukung korupsi dan melindung tikus-tikus berdasi.
Bukankah hanya hukuman tegas yang mampu menghentikan korupsi? Karena jika hanya
merampas harta, para koruptor masih belum jera untuk mengulangi perbuatan
mereka.
Di sisi lain, kita juga sangat heran dengan putusan para hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor)
di berbagai tempat selama ini.
Mereka secara terang-terangan melindung koruptor, terkait terdakwa kasus
korupsi yang oleh para hakim Tipikor itu sendiri dinyatakan terbukti bersalah,
tetapi kenapa di dalam putusannya tak menyertakan putusan menyita kekayaan dari
terdakwa yang diperoleh dari hasil korupsi? Kalau menyita harta saja tak berani,
bagaimana bisa merealisasikan hukuman mati?
Jika seseorang terbukti melakukan tindak pidana
korupsi, maka harta kekayaan yang diperoleh dari hasil korupsi itu seharusnya
disita dan dikembalikan ke negara. Tapi, sangat aneh dengan putusan para hakim
Tipikor yang selama ini memutuskan terdakwa bersalah dan menghukum yang
bersalah dengan hukuman penjara yang sangat ringan dan tanpa menyita harta
kekayaan terdakwa yang diperoleh dari hasil korupsi. Tanpa menyita harta
kekayaan hasil korupsi dari para koruptor, menurut penulis, hal itu menunjukan
bahwa para hakim Tipikor tidak yakin bahwa kasus yang ditanganinya adalah kasus
korupsi. Karena, para hakim ini diduga berpikir tidak ada
kerugian negara di sini.
Dengan model-model penegakan hukum semacam ini, maka
tidak akan ada lagi orang yang takut untuk melakukan tindakan korupsi karena
hukumannya sangat ringan dan hasil korupsi tak disita buat negara. Jadi, para
koruptor masih bisa memanfaatkan uang hasil korupsinya untuk biaya mencari
segala bantuan dalam upaya membebaskan dirinya dari jerat hukuman penjara, atau
untuk mendapatkan hukuman yang ringan jika nanti oleh hakim terbukti dinyatakan
bersalah.
Dengan hukuman penjara yang ringan (ini pun jika
hakim menyatakan terbukti bersalah), para koruptor tetap bisa hidup enak.
Setelah bebas dari penjara, koruptor masih tetap kaya-raya dan bisa hura-hura dengan
menggunakan uang hasil korupsinya. Masyarakat di negeri tentu
berharap semua aparat penegak hukum yang menangani kasus korupsi adalah para aparat
penegak hokum pilihan yang kebal suap. Jangan berdalih bahwa “aparat
penegak hukum juga manusia”. Kalimat “aparat juga manusia” inilah yang menyesatkan masyarakat. Apakah dari ratusan juta penduduk negeri ini,
tidak ada yang kebal suap? Tentu
ada.
Hukuman Tegas
Banyak aktivis hukum mewacanakan “hukuman mati”
untuk koruptor. Namun, hal itu juga hanya sebatas retorika dan tak pernah
ditindaklanjuti pemerintah secara serius, terutama pihak KPK. Dengan kondisi
seperti ini, pemerintah seharusnya tetap optimis dan serius menghukum tegas
koruptor. Karena itu, perlu dilakukan beberapa hal yang bisa menghentikan
korupsi di negeri ini.
Pertama, pemerintah dan KPK segera membuat regulasi
hukuman mati untuk koruptor. Meskipun menjadi perdebatan dan dinilai melanggar
HAM, sesungguhnya hal itu sudah tertera dalam UUD 1945 dan UU HAM bahwa
“Setiap orang berhak untuk hidup”. Identik dengan Pasal 6 (1) ICCPR
yang menyatakan, “Every human being has the right to life”.
Namun, dalam Pasal 6 (1) ICCPR, pernyataan itu dilanjutkan dengan kalimat
tegas, bahwa “No one shall be arbitrarily deprived of his
life”.
Jadi. walaupun
Pasal 6 (1) ICCPR menyatakan bahwa “Setiap manusia mempunyai hak untuk hidup”,
tetapi tak berarti hak hidupnya itu tak dapat dirampas. Yang tak boleh adalah
“Perampasan hak hidupnya secara sewenang-wenang”. Bahkan, dalam Pasal 6 (2)
dinyatakan, pidana mati tetap dimungkinkan untuk “The most serious crimes”. Pernyataan itu
dapat dilihat sebagai pandangan yang menerangkan bahwa pidana mati bukan
merupakan hal melanggar hak hidup manusia, sepanjang memang diberlakukan untuk
hal-hal yang pantas diberikan pidana mati serta dipayungi aturan hukum jelas. Hal ini dapat dijadikan penjelasan bahwasan di Indonesia pidana mati
seharusnya bukan melanggar nilai-nilai kemausiaan, karena Indonesia juga
memandang beberapa tindak pidana sebagai serious crime, seperti terorisme,
korupsi, dan juga narkotika.
Kedua, selain dihukum mati, harta koruptor juga
harus dirampas dan menjadi aset negara. Mengapa? Karena jika dibiarkan, korupsi
pasti akan tetap merajalela dan membudaya di negeri ini. Ketiga, semua pihak
harus melakukan sinergi untuk menumpas korupsi. Pasalnya, tindak korupsi selama
ini banyak dilakukan dengan berjamaah, maka pemberantasannya pun juga harus
berjamaah.
Langkah di atas hanya menjadi wacana jika
pemerintah tak serius menegakkan hukum setegak-tegaknya. Fiat justitia ruat caelum harus direalisasikan, karena hal itu sudah menjadi
dasar penegakan hukum di semua negara. Lalu, apakah pemerintah akan tetap
menegakkan hukum setengah hati kepada koruptor? Kita tunggu saja keberanian
pemerintah. Yang jelas, Tuhan tak pernah tidur. Dan Tuhan selalu menyertai
penegak hukum yang berani dan tegas.
-Hamidulloh Ibda, Penulis Buku “Demokrasi Setengah Hati” (Kalam Nusantara; 2013), Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang
-Hamidulloh Ibda, Penulis Buku “Demokrasi Setengah Hati” (Kalam Nusantara; 2013), Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang
0 komentar:
Post a Comment